Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2025

Smart Basket Zone

Keterbatasan sarana dan prasarana tidak mengurangi semangat dalam pembelajaran bola basket. Fasilitas yang ada hanya terdiri dari satu ring basket, tiga bola, serta lapangan yang permukaannya tidak rata. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan siswa, diketahui bahwa sebagian besar siswa belum mengenal dan jarang memainkan permainan bola basket. Hal ini menyebabkan motivasi mereka untuk belajar bola basket masih rendah.

Sebagai guru pendidikan jasmani, kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu diatasi. Oleh karena itu, dikembangkanlah inovasi pembelajaran bernama “Smart Basket Zone”. Dalam model ini, kegiatan belajar dibagi menjadi tiga zona atau area latihan, dengan jumlah siswa 36 di mana setiap zona berfokus pada satu teknik dasar bola basket dengan menggunakan satu bola:

Zona 1: Passing Zona 2: Dribbling Zona 3: Shooting Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing menempati satu zona sesuai dengan pembagian awal. Setiap kelompok melakukan latihan sesuai keterampilan yang menjadi fokus zona tersebut selama 15 menit, kemudian dilakukan rotasi ke zona berikutnya hingga seluruh siswa merasakan pengalaman di ketiga zona. Hasil penerapan model ini menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Mereka dapat berpartisipasi secara langsung tanpa harus menunggu giliran terlalu lama. Setelah kegiatan selesai, dilakukan refleksi bersama untuk mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran. Melalui pendekatan Smart Basket Zone ini, siswa memperoleh pengalaman belajar yang efektif dan efisien dalam memahami, mempraktikkan, serta merefleksikan teknik dasar permainan bola basket.
#GuruImpresif

Bagaimana keseruannya, yuks simak di https://youtu.be/YF1nglDM8Qc

Selasa, 25 Desember 2012

Kata Mutiara



Children Learn What They Live

Bila seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum.

Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan.

Bila seorang anak hidup dengan ketakutan, ia akan belajar dengan rasa cemas.

Bila seorang anak hidup dengan rasa kasihan, ia akan belajar mengasihani diri sendiri.

Bila seorang anak hidup dengan kecemburuan, ia akan belajar untuk merasa iri.

Bila seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu.


Rabu, 14 November 2012

KEBUGARAN JASMANI


Pengertian Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas keseharian tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dan masih mempunyai cadangan sisa tenaga untuk melakukan aktivitas yang lain.


Kebugaran yang berkaitan dengan kesehatan memerlukan tingkat kebugaran yang cukup dari 3 (tiga) hal yang berkaitan dengan komponen kebugaran jasmani, yaitu:

Ø  Fisik
Tulang, otot dan bagian-bagian tubuh
Ø  Fungsi Organ
Kebugaran jantung, paru-paru, dan peredaran darah.
Ø  Respon Otot
Berkaitan dengan kegiatan-kegiatan otot rangka (otot besar) dan otot halus.

Selasa, 11 September 2012

Sekilas Multiple Intelligences

Pendidikan adalah pintu gerbang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Setiap anak yang terlahir di muka bumi dikaruniai talenta masing-masing. Lalu bagaimana seharusnya orangtua, guru, sekolah bahkan pemerintah sebagai pengambil kebijakan maju-mundurnya pendidikan secara keseluruhan di negeri ini.
Mengutip tulisan Munif Chatib dalam bukunya "Orangtuanya Manusia" Multiple Intelligences merupakan teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dari Harvard University, bahwa setiap anak punya kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan, yaitu: cerdas bahasa (linguistik), cerdas matematis-logis(kognitif), cerdas gambar dan ruang (visual-spasial), cerdas musik, cerdas gerak (kinestesis), cerdas bergaul (interpersonal), cerdas diri (intrapersonal), cerdas alam, dan cerdas eksistensial.
Namun, di negeri ini masih terlalu mengagungkan satu kecerdasan saja yaitu kecerdasan kognitif. Anak dikatakan cerdas jika nilai matematikanya 90 atau 100, tapi sebaliknya anak dikatakan bodoh jika nilai kognitifnya di bawah 50 sementara pelajaran yang lain misal; dibidang keolahragaan atau kesenian nilainya 80 atau 90. Hal ini dikuatkan adanya Ujian Nasional dengan nilai kelulusan minimalnya, yang mana dimata siswa, orangtua, guru, sekolah begitu mengagungkan Ujian Nasional. Bahkan UN bisa menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi siswa, guru, sekolah. Sehingga banyak sekolah yang berlomba-lomba untuk mengantarkan siswanya sukses UN meskipun harus mengesampingkan kejujuran. Tidak heran setiap UN selesai selalu ada ketidakberesan dalam pelaksanaannya. Yang soal bocorlah, kunci jawaban beredarlah, dan masih banyak kasus-kasus yang lain.
Sebagai orangtua kita seharusnya sadar bahwa setiap anak adalah seorang juara yang menjadi bintang di bidangnya masing-masing. Bagaimana seharusnya orangtua, guru dan sekolah seharusnya bersikap? Silahkan klik di www.nextworldview.com